Di sampulnya tertulis sebuah roman. Kita bakal membahas novel ini mengacu pada makna di KBBI. Pertama yaitu karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing dan membawa sifat-sifat zamannya. Kedua ialah sebagai cerita percintaan.
Tokoh utama Setadewa ditampilkan tidak tanggung-tanggung. Penuh dengan metafora. Entah serius entah bercanda. Dia anggota KNIL keturunan ningrat yang menyinggung segala hal mulai dari berbagai ras, menghina Soekarno, dan ingin membunuh Syahrir. Masa kanak-kanak indah kemudian menjadi masa muda yang dihancurkan oleh invasi Jepang. Ibunya -yang indo cantik- mengorbankan diri menjadi pelayan tentara Jepang demi menyelamatkan nyawa ayahnya (seorang letnan tentara kerajaan Belanda) yang tertangkap. Mas Teto (panggilan akrab Setadewa) terpukul. Dia tumbuh dewasa berangasan. Emosinya labil sebagai tentara di bawah pengaruh alkohol. Untunglah dia dijaga oleh atasan berwibawa bernama Mayor Verbruggen.
Sifat zaman waktu itu, Indonesia telah mengalami penjajahan, pernyataan yang biasa pelajar Indonesia dengar, selama 350 tahun. Belanda telah berhasil menyelenggarakan pemerintahan kolonial dan memelihara kestabilan di seluruh nusantara. Jadi, saat Jepang kalah di Perang Dunia Kedua tetap ada masyarakat inlander yang ingin tetap menjadi bagian dari negeri Ratu Wilhemina. Di sinilah peran pemuda pergerakan nasional meyakinkan takdir kemerdekaan. Sutan Sjahrir adalah pelopor kampanye pembebasan Indonesia dari penjajahan di dunia internasional.
Aspek kedua dari roman Burung-burung Manyar merupakan kisah percintaan antara Setadewa dan Atik. Kisah asmaranya tergolong baik, walaupun interaksinya terbatas dalam situasi perang dan pascaperang. Sejumlah pembaca Goodreads mengeluhkan kekurangintiman dan ending yang tidak menyatukan pasangan tersebut. Aku tidak sependapat. Menurutku porsinya sudah tepat.
Kita selalu bisa menghargai keunikan, apa lagi di dalam karya sastra. Yang membuat novel ini berbeda, ia mengambil sudut pandang seorang pengkhianat, yang membela Belanda penjajah melawan negara kesatuan republik Indonesia. Novel ini juga berhasil mengambil sudut pandang orang pinggiran seperti para pembantu di keraton, dan kehidupan masyarakat lokal bersama pejuang kemerdekaan.
Sesuai judulnya, karangan mengambil filosofi dari pengamatan terhadap kehidupan burung Ploceus Manyar. Kupikir cukup menggambarkan mengenai novel secara keseluruhan. Hanya saja aplaus hadirin di sidang gelar doktor Atik agak berlebihan sampai berlinang air mata. Jati diri dan bahasa citra dalam struktur komunikasi varietas burung Manyar berseberangan dengan sikap Setadewa terhadap Atik selama mereka saling kenal. Jati diri Mas Teto seorang pribumi-indo yang memihak Belanda dan mengabaikan pula bahasa citra Atik yang menanti Teto sebagai pasangan.
Alternatif penceritaan : Sebaiknya novel ini memakai sudut pandang orang ketiga karena banyaknya perkataan vulgar. Poin-poin kritik lain hanyalah pikiran negatif dari Teto seperti telah disebutkan lalu terdapat antipati terhadap kepahlawanan Diponegoro. Ada pula komentar dari Bu Antana bahwa Atik merupakan bibit unggul berkat darah ningrat. Selebihnya tidak perlu saya uraikan. Silakan anda baca sendiri. Secara keseluruhan penilaianku pada buku ini berbintang 3 hingga 4.

