Resensi Buku Nadira

Buku kumpulan cerita berjudul Nadira bernuansa metropop. Pada dasarnya, aku sepakat dengan berbagai testimoni pembaca Goodreads mengenai penokohan yang benar-benar hidup dan kita tidak ingin berhenti membaca hingga selesai. Kuanggap buku karangan Leila Salikha Chudori itu sebagai novel walaupun merupakan kumpulan cerita yang saling berhubungan.

Keunggulan penulisnya terletak pada dialog antar karakter. Inilah kunci keberhasilan Nadira memikat emosi pembaca, biarpun narasi serta sudut pandang berubah-ubah. Tidak heran, Leila juga piawai menulis skenario film. Satu lagi keunikan buku ini ialah integrasi seni drama/teater yang menyatu dengan perjalanan hidup Nadira. Kisah ‘Kirana’ terhubung dengan Nadira yang agak tomboy.

Pembukaan cerita diawali dengan peristiwa kematian Kemala, ibu dari tiga bersaudara (Yu Nina, Arya, dan Nadira) meninggalkan pertanyaan di benak pembaca sepanjang cerita. Manakala buku tersebut adalah novel, penyebabnya mesti diungkap. Karena Nadira didaulat sebagai kumcer, ketidakjelasan itu tidak mengapa menggantung. Entah itu strategi penulis yang disengaja atau tidak. Dari segi bentuk, Nadira sebuah pencapaian teknik (hybrid Cerpen-novel) hingga diganjar KLA 2013. Dengan pengalaman pembacaan bukunya, saya pernah berusaha mengarang karya fiksi hybrid seperti itu walau gagal.

Menurut hemat saya, Nadira tetap sebuah novel dengan bab yang terpencar-pencar dan nyambung, sesuatu yang lazim dirangkai di novel-novel serius dalam khazanah sastra. Pengarang kumcer tidak harus menguntai benang merah dalam sebuah buku sedangkan suatu novel terlepas berapapun jumlah bab yang memenggal, meski dibolak-balik sekalipun tetap harus terhubung faktor intrinsiknya (alur dan plot).

Andai pun Nadira dipublikasikan sebagai sebuah novel, kelemahan buku bakal tampak dan mudah dikritik. Pertama tentu sebab musabab bunuh diri ibunda si Nadira. Ibunya tergolong relijius, suka berzikir, walaupun tidak shalat. Dari narasinya kita peroleh sebab dia tidak mampu menanggung beban hidup serta permasalahan keluarga. Logis agaknya bila dalam plot Kemala menderita penyakit parah yang tidak tersembuhkan dan dia akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya. Kedua, dari ketidakjelasan kematian bunda kemudian sangat mempengaruhi kehidupan Nadira selanjutnya dalam karir dan percintaan. Tapi ‘kan tidak mesti tidur di kolong meja kerja sambil komat kamit. Itu lebih lebay daripada sinetron. Kurasa cukup kalau sering tertidur di meja kerja hingga larut malam dan sempat mengigau. Terlambat pulang atau bermalam di kantor. Ketiga, Nadira seolah melupakan kebaikan Majalah Tera termasuk atasannya Mas Guntur dan Utara Bayu dengan pindah bergabung ke The Newyork Telegraph. Redaksi yang telah memberikan keleluasaan bekerja maupun cuti, dan menoleransi saat Nadira tengah berkabung. Adapun perhatian Utara Bayu bertepuk sebelah tangan, karena Nadira lebih memilih bersama pianis berbakat Marc bahkan tidur dengan playboy Rick Vaughn. Iya dong, bule. Dari semua tingkah itu, jadi paham rasanya kala orang menjadi burung Nazar di kantor tempat kerja. Bermacam komentar negatif dariku hanya pada alur penokohan. Karakter Nadira terlalu dibuat mencari simpati pembaca, termasuk bagaimana mendapat perhatian dari rekan-rekannya. Di sisi lain, kerapuhan tersebut tiba-tiba ambisius menggaet pria top dan kaya. Jelas terdapat kelemahan dalam motif penokohan mengikuti alur plot. Aku juga tidak membaca adanya wacana serius dalam penceritaan. Sosok Nadira sendiri tidak terlalu istimewa. Secara umum, sikapnya menggambarkan kebanyakan perempuan perkotaan menjalani gaya hidup bebas, yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top