Jagoan Supranatural dan Fiksi Sains itu Beda

Perbedaan antara fiksi supranatural dan fiksi sains bisa dilihat contohnya pada robot-robot Transformer dan Gundam.

Menurutku semakin spekulatif suatu sains, semakin dekat ia pada supranatural. Sains tercanggih akan mendekatkan kita pada sesuatu yang Maha Gaib. Namun, dua hal itu tidak ekuivalen. Supranatural akan selalu lebih tinggi daripada sains. Sehebat-hebatnya Iptek tidak bermaksud menandingi kekuatan alam. Oleh karena itu, suatu karya fiksi, komik, buku atau film, tidak tepat saling mengadu antara legenda supranatural dan kampiun teknologi. Dua kekuatan tidak setara bertarung. Dampak dari keistimewaannya timpang walau cukup seru seumpama pada Film Batman versus Superman : Dawn of Justice -walau pada akhirnya bersekutu. Batman dan Superman adalah tokoh komik ternama yang sudah lama eksis dan punya basis penggemar. Kemampuan bela diri Batman serta perlengkapannya tidak sejajar dengan keunggulan tingkat dewa Superman. Itu cuma akan menyubordinasikan citra Batman (penonton bakal sadar Batman kalah), biarpun Superman juga memiliki kelemahan (Kryptonic) sehingga dimanfaatkan Batman memenangkan pertarungan. Keduanya mesti dipisahkan dalam satu karya. Tidak dalam satu dunia, tetapi memungkinkan beda dimensi. Manakala percampuradukan semacam itu menjadi keniscayaan di ranah fiksi, sebaiknya dalam rangka memunculkan karakter jagoan baru -seperti Guardian of Galaxy- dan tidak melibatkan tokoh superhero tradisional.
Kisah perang klasik lazim mempertemukan dua jagoan untuk duel seperti padafilm Troy dan Kingdom of Heaven. Ide menggelar banyak bintang (all-star) dalam satu waktu telah sering kita simak di bidang olah raga. Di cerita fiksi apa tidak risih? Seharusnya superhero gengsi main keroyokan. Tawuran juga menggeneralisasi karakter mereka. Keunikan masing-masing tidak terlalu kentara dan kemampuan setiap pelaku jadi berkesan rata-rata (psikologi massa). Meskipun demikian, The Avenger sukses menjual tiket dan menuai pujian ; tentu lebih baik daripada sekadar berkomentar dan tidak menghasilkan uang. Memang tidak ideal, tapi tetap ada solusinya. Kreator atau penulis fiksi (buku, komik hingga film) hanya perlu menonjolkan maksimal 2 tokoh seperti Batman dan Robin, itu pun andil mereka tidak sama dalam menangani antagonis (karakter utama + pendukung). Dalam konteks Avenger, generasi baru penggemar fiksi akan cenderung memilih yang terkuat, paling hebat ; dan, jika semua tokoh jagoan mendapat porsi tampil yang sama saat mereka masing-masing menunjukkan kemampuan terbaiknya, bakal ada sosok yang terpinggirkan. Jadi bisa begini ceritanya. Captain America dari Washington DC sedang mengejar koruptor yang bepergian ke Jakarta misalnya. Di sana ada Gundala yang bisa dihubungi untuk menghadang. Di Indonesia, keduanya bekerja sama. Sambil menumpas kejahatan, mereka mungkin melakukan alih teknologi atau tukaran trik sulap. Penjahatnya kabur lagi ke negara lain dan porsi Gundala ditinggalkan oleh Captain America untuk menemui jagoan lain tempat buronan itu kebetulan berada. Paling banter dipilah menjadi pemeran utama, pendukung, dan cameo karena banyak juga aspirasi penggemar pada penasaran kalau sesama jagoan kumpul.
Hal terakhir yang perlu dipertimbangkan setiap tokoh fiksi tradisional itu sudah ada konteksnya atau lingkungan tersendiri mulai dari local hero di desa, penyelamat kota,  pahlawan negara, superhero bumi, penjaga galaksi dan seterusnya. Jika telah terlanjur terlalu banyak superhero dicampur dalam suatu judul film, akan sulit bagi kreator untuk menulis konteks bagi masing-masing superhero untuk kisah selanjutnya, karena pemirsa akan mencari ke mana si Fulan. Plot menjadi janggal dan berlubang-lubang. Itulah sebabnya mengapa sebaiknya tidak menggabungkan mereka dalam satu cerita. Kreativitas penulis menjadi terbatas dan sulit memikirkan tokoh antagonis berikutnya. Ide besar yang tersisa adalah membuat prekuel dari tiap-tiap superhero atau group jagoan tertentu (X-Men : First Class).
Seorang jagoan yang memiliki kekuatan supernatural sekaligus keahlian teknologi rasanya mubazir. Namun, terkadang kecanggihan teknologi mendekati keajaiban alam. Kalau kalian bingung apakah tokoh fiksi itu supernatural atau sains fiksi, penonton harus mampu membedakan antara kemampuan yang bersifat meningkatkan ketangkasan manusia dengan atau tidak bersenjata (tangan kosong) dibanding  meng-upgrade gadget, atau antara skill bela diri dan kemajuan senjata mematikan. Mengubah fungsi tubuh tidak sama dengan mengganti senjata, meski sulap dan sihir terkadang mengaburkan perbedaan itu. Karakter boleh menggunakan suplemen namun tetap dalam batas-batas fisik manusiawi.
Jadi penokohan yang ideal itu bagaimana? X-Men merupakan contoh yang paling baik cerita yang mengumpulkan superhero. Semua tokohnya berkekuatan supernatural sedangkan Gundam adalah salah satu film perang sains teknologi terbaik. Jangan salah, Gundam memang film animasi (anime) tapi kurasa yang penting adalah isi cerita, esensi di dalamnya. Selain hal ideal di atas, sejarah penceritaan juga telah mengisahkan manusia-baik melawan teknologi (Terminator) atau manusia-baik melawan sihir (Season of the witch) sebagai genre thriller. Di saat yang sama genre fantasy superhero telah menampilkan Batman versus Joker dan Superman versus Lex Luthor. Tidak sama kuat tapi si antagonis mampu mengimbangi dengan kelicikan dan kecerdikan. Tren kreatif hingga kini agak dibalik-balik. Joker sekarang punya film tersendiri dari sudut pandang penjahat, entah siapa lagi nanti.
Wujud fiksi sains (science fiction) tertinggi dalam artian yang paling maju teknologinya dan paling canggih ada pada film Iron Man. Dulu kupikir Gundam yang terbaik. Tampaknya Iron Man lebih efisien meski tidak terlalu sreg dengan Jarvis karena terlalu cerdas. Kurasa hal yang lebih tepat dilakukan Stark yakni sering ngobrol dengan CS operator telekomunikasi sebagai pegawai khusus Stark untuk urusan teknis*. Kembali ke jalur bahasan tadi, di sinilah perbedaan konteksnya. Iron Man sendirian untuk Bumi sedangkan Gundam bersifat komunal, dapat menjangkau seluruh tata surya.
Terima kasih telah membaca. Tulisan di atas sekadar opini pribadi dari pemerhati dunia Fiksi.
*opini terdahulu waktu AI belum booming
Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top