Faktor Intrinsik Sebuah Karya Fiksi

Apakah semua kisah telah diceritakan? Ketika menelisik ide-ide cerita yang pernah ditulis dan kemungkinan menemukan gagasan baru termasuk dalam strategi penceritaan dan teknik. Ibarat menjelajah di sebuah perpustakaan raksasa yang khusus memuat buku-buku fiksi atau menyisir kabinet berisi koleksi film-film terbaik berskenario non-adaptasi, meski terdapat adagium tidak ada hal baru di kolong langit, pembaca di seluruh dunia tentu senantiasa menantikan karya-karya baru orisinil. Karya fiksi ditulis oleh seorang pengarang berdasarkan kreativitas, sensitivitas, dan kekritisan terhadap dunianya yang bersifat subjektif. Berikut faktor-faktor intrinsik yang membentuk sebuah karya fiksi : 
 
mengarang fiksi
                      source : pixabay

 

  • Unsur tema, topik, dan judul 

Terdapat beberapa perbandingan dalam menentukan tema, topik, dan judul antara karya fiksi dan nonfiksi. Tema merupakan cakupan/jangkauan menulis karangan sebagai dasar cerita yang bersifat abstrak, sering juga diungkapkan dalam cerita lain, serta bisa diterima sebagai kebenaran umum. Topik cerita biasanya adalah bab/chapter. Teknisnya bisa variatif, bahkan tanpa pembabakan atau cuma berupa urutan angka. Judul berfungsi menarik hati pembaca. 

  • Unsur Plot

Plot itu bagaimana peristiwa diatur, keunikan susunan peristiwa yang digunakan, dan ada pembaharuan rangkaian peristiwa. Di dalamnya terdapat pengenalan, insiden/konflik, klimaks/puncak ketegangan, penurunan, dan penyelesaian/solusi. Plot jangan terlalu datar, cerita mesti dinamis, penuh riak dan konflik. Setiap bab ada hal baru/masalah baru sampai akhir bab ; ada adegan menggantung yang buat penasaran. 

  • Unsur Penokohan 

Bagaimana memberi karakter pada tokoh-tokohnya, sifat-sifat ketokohan, dan ada  keunikan dalam menciptakan watak. Tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh pembantu dituliskan sebagai berikut :

menyebut secara langsung

–  mengungkapkan melalui dialog antar pelaku

menggambarkan perilaku dan sikap tokoh

monolog tokoh

  • Unsur sudut pandang

Sudut pandang yang dipakai pengarang menyetir selama pembaca berlayar : orang pertama (aku), anonim tahu segalanya, orang kedua, dan orang ketiga, serta  ada keunikan sudut pandang dalam cerita.

  • Unsur Setting

Bagaimana latar digunakan, apakah latar cocok dengan peristiwa.

  • Unsur nilai-nilai (value) dan signifikansi karangan

Nilai- nilai dan pengaruh yang dapat diperoleh  pembaca. Adakah hikmah dan gagasan baru yang dapat dikembangkan?

  • Unsur bahasa dan gaya cerita

Bahasa yang digunakan ; cerita dapat disampaikan dengan cara humor, serius, sinisme, dan yang dapat menimbulkan kesan indah (susastra). Teknik pengungkapan memungkinkan adanya kiasan, mampu menggugah imajinasi atau cukup dengan kata-kata pilihan bermakna apa adanya.

 

Elemen intrinsik tidak harus disiapkan di awal penulisan fiksi. Adapun kiat-kiat standar yang dapat diupayakan pengarang sewaktu berlangsung penulisan fiksi :

       –   Membiarkan pembaca yang membaca pikiran tokoh-tokoh utama. Penulis hanya mengarahkan.

       –   Terdapat Ide-ide dalam realitas kehidupan yang menarik dan tidak menarik. Upayakan keduanya bagus dalam fiksi.

       –   Mempertahankan semangat membaca pembaca di tengah cerita dengan memunculkan unsur kejutan (plot twist)

       –   Hempasan pada pikiran pembaca dari insiden-insiden terpilih sehingga mereka terbawa oleh jalan cerita

 

Referensi : 

Buku pelajaran Bahasa Indonesia SMU

https://youtu.be/1GQMiLVa5GY?si=f7Kz4BJ2IZGALnFw

Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top