Catatan Editor atas Naskah Novel Transisi

  1. Harus diakui bahwa ide atau tema novel ini sebenarnya sangat bagus, yakni tentang sebuah pulau yang menjadi sengketa antarnegara dan akhirnya dimiliki oleh negara lain. Sayangnya, peristiwa yang dihadirkan dalam keseluruhan cerita baru mengupas permukaan tentang persengkataan pulau tersebut. Kurang ada drama dan detail kejadian yang membuat pembaca terus terpukau untuk membaca. Seperti ada beban untuk menceritakan sesuatu yang besar tentang Pulau, namun meniadakan drama yang rinci. Cerita yang ada seperti fragmen-fragmen yang terpisah dan sengaja disatukan, namun sepertinya kurang padu. Kurang jelas bagaimana sepak terjang Praja yang disebut-sebut sebagai gembong mafia dan penguasa Pulau. Tidak jelas bagaimana pola hubungan Samarinda, Praja, dan Ratu. Mengapa Ratu dan Jack digambarkan begitu sengit bermusuhan? Pembaca tidak mendapat gambaran yang utuh. Hanya pada permukaan saja. Barangkali bisa dipertimbangkan untuk menambahkan kilas balik (flash back) untuk lebih membuat penceritaan menarik dan berwarna.
  2. Untuk ukuran sebuah novel, judul novel ini (Transisi) kurang menarik/tidak cukup menggugah, mengingat persaingan pasar novel begitu ketat dan cepat. Mungkin bisa dicari judul lain yang lebih eksotis.
  3. Sinopsis kurang menggigit!—perlu dipertimbangkan dihilangkannya dialog antara Ina dan ibunya. Barangkali bisa diramu kembali.
  4. Perlu dipertegas target pembacanya, karena menentukan gaya penceritaan dan pilihan bahasa/kata-kata.
  5. Kemunculan nama panggilan yang tiba-tiba bisa sangat mengganggu konsentrasi pembaca. Misalnya, dalam bagian sinopsis yang menghadirkan nama ‘Ina’ begitu mendadak setelah memperkenalkan tokoh Safarudin. Perlu diberi pengantar nama-nama tokoh. Atau perlu digunakan nama panggilan yang ‘ajeg’/tetap.
  6. Judul tiap bab kurang menggugah untuk mengikuti alur cerita. Tanpa ada sesuatu yang ditahan atau disembunyikan agar pembaca bertanya-tanya dan terus mengikuti cerita di bab-bab berikutnya.
  7. Tentang koherensi atau keselarasan cerita, pada Bab 16 misalnya, justru tidak terdapat adegan duel sebagaimana yang tersurat dalam judul bab. Semestinya judul bab menjadi ruh yang mendasari pijakan keseluruhan isi bab itu. Misalnya dengan menghadirkan duel yang sengit, dengan penceritaan yang membuat nafas dan jantung pembaca berdegup kencang karena terlibat dalam kisah yang dihadirkan.
  8. Banyak tokoh tidak signifikan kehadirannya terhadap keutuhan cerita, justru membuat pembaca banyak menghafal sejumlah nama yang tidak terlalu penting. Misalnya, tokoh Aksa dan Hakeem, apakah bedanya? Di manakah signifikansi mereka berdua dalam jalinan cerita?
  9. Rahasia bahwa Jack dan Takalar (memang nama yang aneh!) semestinya bisa digali lebih dalam dan mengasyikkan.

sumber : jasa penyuntingan (full editing)

Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top