Tirani Saman dan Larung

 

“Siapa bertanggung jawab atas konsekuensi pikiran?” Siapa bertanggung jawab atas gagasan dari novel yang sensitif/vulgar? Mulai membaca Larung sebaiknya langsung ke halaman 87, biar lebih nyambung dengan Saman yang bertema pergulatan di zaman orde baru.

Saya sepakat dengan banyak ulasan di Goodreads mengenai novel Larung yang tidak sebaik buku karya Ayu Utami sebelumnya, Saman. Mungkin penulisnya berusaha ‘nyastra’ atau dia mungkin secara instan menggabungkan ide/konsep yang menganggur (saya paham cara ini) untuk membantu mempertebal naskah. Ayu Utami menyajikan penokohan dan cerita yang menarik. Sepertiga awal buku ini memang membosankan, tidak semua pembaca senang. ‘Tirani’ akan dibahas di sebagian akhir tulisan.

Seburuk-buruk Istri adalah wanita yang mengganggu laki-laki lain (menjijikkan dengan kata lain -ganggu saja suamimu!) tapi kita juga akan bersikap adil bahwa ada gadis/perempuan yang punya rasa insecure tinggi dan memilih lebih aman nyaman bersama suami orang lain tanpa menikah. Maksudnya kalau cinta ya tetap berteman dan berkomunikasi, sedangkan bila mengincar keintiman (hubungan seks) dan kemapanan, jadilah istri orang lain, istri kedua dst.

Tentu kemungkinan terburuk adalah jika ‘simpanan’ juga rutin bergantung pada harta atau hadiah kejutan dari suami-orang ; lebih parah daripada pelacur serakah di jalanan. Psikopatologi macam ini terjadi karena poligami tabu dalam masyarakat sekuler bertata negara. Poligami sebaiknya dilegalkan saja bagi semua pria yang mampu (seperti ibadah haji) dengan persyaratan ketat. Kaum feminis jelas sangat menentang ide ini. Laila hanya menginginkan kasih sayang dan kontak fisik terbatas khas gay tipe B yang menjadi lesbian/biseksual atas inisiatif proaktf gay tipe A. Apa kita meremehkan cinta? Gay juga merupakan style selain orientasi seksual serupa kecenderungan antara sayang-anak dan pedophilia (baca beda cinta dan seks). Kalau begitu bagaimana dengan Poliandri? Zaman dahulu pernah berlaku sedangkan sekarang hampir tidak mungkin menjadi trend akhir zaman karena sebagian besar laki-laki dewasa kabarnya akan tewas dalam perang (hadits).

Feminisme fokus pada apa yang dilakukan Adam kepada Hawa dan kurang memerhatikan perlakuan perempuan terhadap sesama perempuan. Tirani ‘bekerja’ setelah setahun tidak berhasil mengatasi baby blues (awal diagnosa postpartum depression), mending segera ketahuan dokter untuk ‘dibebastugaskan’ dari anaknya (bahkan selamanya) dalam artian menjadi hubungan terbatas sebagai ‘bunda’ (ibu semua orang) dan bukan seorang ‘mama’ (ibu sejati bagi anak kandungnya). Di sinilah peran kunci suami/calon ayah sebelum membuahi dan perlakuan kepada istrinya sewaktu mengandung.

Bagi wanita berbudaya tinggi dan menerapkan disiplin ketat pada kesehatan jasmani, tentu jadi bumerang. Janin telah lepas serasa parasit menggerogoti tubuhnya lalu diperparah oleh sikap suami yang abai dan tidak layak sesudah istri melahirkan. Tidak mungkin dilampiaskan pada ‘dewa-dewa’. Jika terjadi malapetaka, laki-laki wajar dipersalahkan (kepala keluarga tidak becus). Bagaimana bila fenomena psikologis tersebut tak terdiagnosa? Anak-anak mereka berpotensi cacat atau ditelantarkan. Tirani bersalin melahirkan tirani perempuan, dan jika lelaki : calon teroris, psikopat dingin, hingga diktator lalim.

Ironisnya, masyarakat tradisional sukses -walau tidak semulus yang dibayangkan- menekan kuantitas depresi pascamelahirkan karena para wanita telah digembleng jauh-jauh hari. Itu di sektor hulu dan banyak faktor lain yang mempengaruhi sebenarnya : suami pengertian, sikap mertua, dan tekanan lingkungan. Semakin maju atau mapan suatu kehidupan –di perkotaan contohnya– walaupun para ibu tersebut tidak sampai depresi, simtom dari alumni baby blues bisa muncul ke permukaan (hilir) secara kualitatif. Pernah tidak kalian mendengar seorang ibu mengomel, “Kau kira orang tidak setengah mati melahirkan?” Jangan pernah durhaka pada mama. Hanya Allah SWT yang bisa melawan perintah seorang Bunda.

Istri yang gusar berpotensi menjadi calon tirani. Uniknya seorang bunda tirani hanya melakukan itu pada putrinya (serta lingkungan sekitar) bukan pada cucu perempuan ; dan seperti siklus opspek, Rinasih syndrome* pada budaya patriarki misalnya membebat payudara Laila agar tidak menarik perhatian lelaki barangkali karena iri pada jelang keberuntungan, kejayaan masa muda putrinya. Puncak kekuasaan tirani terjadi tatkala sang suami berumur tidak mampu mengendalikan krisis paruh baya. Itu ‘kudeta’ alami sebenarnya yang melampaui sekadar ‘penguasa dapur’. Istri mengambil alih banyak keputusan-keputusan penting rumah tangga termasuk keuangan.

Orang-orang terdekatnya menjadi ‘Yes mom’, asal ratu senang. Ia merajalela. Ketika putranya menikah, ia mengerjai menantunya. Tentu dengan embel-embel budaya luhur (mungkin rasa bangsawan), misalnya menyuruh untuk cepat-cepat punya momongan agar tidak terlalu lama bersenang-senang, atau mencampuri urusan nutrisi sehingga sang istri kesampaian calon raksasa obes. Patokannya bukan ‘ketiranian’ melainkan tingkat sarkastis dan kedzaliman, dan inilah di mana kita kembali ke bagian awal cerita di buku Larung.

Maaf kalau ulasan ini hanya dapat dimengerti oleh pembaca yang telah khatam Saman dan Larung. Ini bukan semacam hate speech. Semoga dapat membantu menjadi ibu yang baik.

*Personalisasinya dapat dibaca di salah satu cerita berjudul “anak perempuan” di Kumcer Memoar Provinsi

Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top