Pemikiran politik adalah jenis pemikiran tertinggi. Bila anda hendak diperhitungkan sebagai pengarang buatlah karya sepolitis dan seidiologis mungkin. Hasilnya minimal anda seorang cult writer dengan sedikit penggemar. Tere Liye agaknya mendapatkan semua jenis pembaca sependek pengetahuanku berdasarkan daftar panjang buku-buku laris yang dia tulis.
Halaman-halaman pembuka Negeri Para Bedebah sangat umum dan tipikal bersamaan (komoditi penerbit besar) dengan tendensi pamer untuk mempertahankan perhatian pembaca sepanjang bab awal. Tampak aku bakal duduk didikte berjam-jam oleh novel kontemplasi ala Steppenwolf Herman Hesse. Bak mendengarkan racauan pertapa bergaya Wolf of Wall Street, tapi tidak juga, penulis NPB punya cerita serius. Memilih sebuah novel tak murah dan ongkir mahal terkadang amat riskan. Mengapa kita tidak membaca esai-esai ringkas? Atau, bertaruh senggang di beberapa cerpen koran. Dapat cerita aneh tak mengapa toh hanya rekreasi singkat.
Paling tidak saya memetik pelajaran, menyadari mengapa selera kurasi dari DKJ, Salihara, dll. menitikberatkan bentuk daripada isi : teknik unik, keterampilan berbahasa, dan strategi pengisahan* daripada kandungan pesan. Tema antikorupsi selalu didukung, tapi terlalu mengkonfirmasi diri narator dan konteks keadaan seolah menyuapi pembaca. Kemampuan menahan informasi kadang diperlukan. Narasi eksplisit dan gagah-gagahan menjadikan karakterisasi gampang dikunyah -seperti film action asal India. Saya pasti belajar dari penulis-penulis terkenal dan belum tentu meniru gaya mereka.
Sebenarnya bagaimana mengukur kualitas bagi pembaca-pembaca yang terlalu menuntut? Memang bukan kewajiban penerbit mayor menyediakan buku-buku segmen ramai pembaca melainkan itu tugas jaringan toko buku dan reseller. Nama Gramedia misalnya berperan ganda. Semakin orang berpengalaman membaca buku bakal semakin rentan menemukan bacaan yang berkesan biasa (generik). Haruskah setiap penulis bersikap awas kepada ketidakjelasan pengkritik di dunia maya? Ada sarkasme berlebihan tanpa argumen memadai terhadap kreativitas termasuk buku-buku berlabel best seller. Iya memang itu hak pembeli petantang petenteng menyuarakan perlindungan hak konsumen pembaca dari karya tidak bermutu -versi dirinya. Seseorang menyobek-nyobek buku, kertas-kertasnya dijadikan tisu toilet atau dibakar sedemikian rupa lalu memamerkan perbuatan itu di media sosial. Tidak usah memuji, hargailah orang mencurahkan waktu membangun. Tidak perlu dibaca sampai selesai tapi tulislah kritik yang memperbaik.
Belum tentu anda sendiri sanggup menulis buku tebal dan dihargai suatu penerbit. Akan tetapi, sebenarnya bukan soal buku macam apa yang tidak memuaskan melainkan hal lumrah bagi pembaca-kuat mencapai tingkat wawasan tertentu dan itu berarti baik karena mengalami kemajuan pribadi, sedangkan buku-buku terbaru atau karya penulis pendatang baru akan menemukan pembacanya.
Sampai di sini agak terang bagi seorang novelis agar tidak usah terlalu menghiraukan jumlah pembaca dan sebanyak apa “like” yang diperoleh. Penulis fiksi/sastra harus senantiasa menjadi diri sendiri, seperti diari dengan berbagai pilihan sudut pandang. Karena apabila cara menulis terlalu berusaha mengesankan pembaca/pasaran, gelagat itu akan terlihat.
Ulasan ini termasuk dalam gradasi tingkat apresiasi kritis di atas dan tidak bermaksud menghakimi buku itu sastra atau tidak. Saya tahu tiap-tiap judul novel memiliki ‘universe’ tersendiri dengan berbagai trik dan penanganan khusus diperuntukkan bagi karya itu saja. Namun, penulisan kreatif punya kategorisasi fiksi dan nonfiksi. Kritik saya tidak bermaksud mencampuri hak preogatif pengarang, terutama yang sudah eksis dan populer, tidak lain sekadar tinjauan atas prinsip-prinsip umum penulisan. Resensi ini mungkin bakal direvisi ketika NPB tuntas kubaca. Saya kebetulan sedang menulis sebuah novel selama bertahun-tahun hingga sekarang, belum jadi-jadi. Setiap penulis fiksi pasti berusaha mencapai level piawai agar merasa diterima pembaca.
Referensi :
Youtube – Salihara
*martinsuryajaya.com/post/siapakah-masa-kini
