Resensi Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Para pembaca karya sastra tentu mengenal berbagai macam versi yang menyusun novel terbaik di dunia dari 100 hingga 1000 judul pilihan. Bila kita membatasi khusus buku karangan penulis Indonesia, maka Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) karya Ahmad Tohari akan bertengger di no.1. Paling tidak, versi mikailearn dari sekian banyak buku fiksi literatur buatan Indonesia yang pernah kubaca.

Membaca RDP seperti mendengarkan orang lain membacakan kepadamu. Berbaring menyandari bantal tidur atau duduk diam mendengarkan khasanah flora dan fauna, dari irama seorang pendongeng. Trilogi RDP khususnya bagian pertama (Catatan buat Emak) ditulis sangat baik. Cerita diawali peristiwa keracunan Tempe Bongkrek yang menimpa warga Dukuh Paruk sebelas tahun sebelumnya, menewaskan belasan orang, dan sebagian anak-anak Dukuh Paruk menjadi yatim piatu. Bab pertama begitu berkesan, diakhiri oleh kidung yang dinyanyikan Sakarya, kakek dari Srintil :

Adalah gita penjaga sang malam
Tetaplah selamat, lepas dari segala petaka
Luputlah segala mara bencana
Jin dan setan takkan mengharu biru
Teluh takkan mengena
Serta segala prilaku jahat, ilmu para manusia sesat
Padam seperti api tersiram air
Pencuri takkan membuatku menjadi sasaran
Guna-guna serta penyakit akan sirna….

Kisah Srintil dan Rasus bermula sedari anak-anak yang bermain dengan teman-teman pedukuhan. Ketika Srintil ketahuan berbakat alami sebagai ronggeng, seluruh penghuni Dukuh Paruk menyambut gembira. Srintil dipercayakan oleh kakeknya kepada dukun ronggeng setempat untuk melatih dan meresmikan kehadiran Ronggeng Dukuh Paruk yang telah menjadi semacam tradisi pedukuhan.

Fenomena dunia ronggeng membuat Srintil terlalu cepat terlibat dalam kehidupan orang dewasa. Demikian pula Rasus yang menyukai Srintil. Rasus mesti bekerja mencari nafkah sejak menginjak usia remaja (13thn). Kisahnya berlanjut di buku kedua dan ketiga. Polemik kehidupan aktual menanti mereka yang tak kalah rumit. Aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI) membayangi kehidupan daerah-daerah di Indonesia. Srintil menari di acara partai PKI sedangkan Rasus seorang tentara yang bertugas mengamankan orang-orang yang terlibat kegiatan komunis.

Perlu digarisbawahi bahwa RDP merupakan salah satu buku bersetting PKI yang masih relevan hingga saat ini, misalkan menyangkut kampanye partai-partai nasional, paham kiri, pembangunan proyek infrastruktur, kemiskinan dan lain-lain. Buku yang wajib dibaca oleh setiap orang di Indonesia.

Sesuatu senantiasa mengganggu dalam penceritaan RDP, yang sering diulang-ulang konteksnya adalah mengenai “pakem kehidupan”. Perbedaan status sosial yang menjadi tolak ukur ketaatan manusia. Benar atau salah tergantung siapa yang bicara. Tunduk pada kepalsuan yang memuakkan. Apalagi kalau bukan kepriyayian yang punya andil dalam kebuntuan pedukuhan Srintil dan Rasus. Coba andaikan Dukuh Paruk adalah sebuah negara! Baca juga dan bandingkan dengan pokok pikiran dari buku Para Priyayi karya Umar Kayam.

Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top