Resensi Novel Cantik itu Luka

Apa kalian tahu pertumbuhan genre fantasi di Indonesia meningkat? Trend tersebut dimotori penulis-penulis muda yang banyak menghabiskan waktu bermain game, menonton tv, selain membaca tentunya. Inspirasi mereka berasal dari gameplay, anime, komik dan novel fantasi terjemahan. Tidak sedikit pula yang mengambil bahan utama dari dalam negeri. Eka Kurniawan salah satunya. Tidak banyak buku fantasi lokal yang mencapai taraf menjadi literatur/sastra. Cantik itu Luka menembus penerbit besar juga butuh proses panjang.

Secara konsep, Cantik Itu Luka (kusebut saja Cantik) karangan Eka Kurniawan adalah karya yang fantastis. Meskipun alurnya maju mundur masih dapat diikuti pembaca. Inilah kisah fantasi yang bersumber dari sejarah, filsafat, mitologi,dan folklore (dongeng/cerita rakyat). Sulit menyatukan semua referensi itu. Dari serangkaian blurb, Katrin Bandel yang paling tepat menggambarkan buku ini.

Cantik sungguh telah menarik minat baca sejak bab-bab pertama. Sy sendiri cuma peduli pada kisah Dewi Ayu seorang sejak dia hidup sampai bangkit dari kubur. Kisahnya sewaktu bersekolah di zaman Belanda. Petualangan di masa pendudukan Jepang hingga kematiannya selepas melahirkan anak ke empat.

Pembukaan cerita sangat menarik sayangnya tidak ditutup dengan signifikan. Motif si roh jahat (mantan suami Dewi Ayu) tidak adekuat. Roh Ma Gedik menyimpan dendam karena dulu kakek Dewi Ayu (Ted Stammler) merenggut ma Iyang (kawin paksa) dan menyebabkan kekasihnya bunuh diri. Walau bagaimanapun, Dewi Ayu beserta keturunannya adalah garis keturunan Ma Iyang. Logika fiksi masih nyambung, namun semakin jauh silsilahnya semakin tidak relevan. Pembalasan yang paling memungkinkan ke Henri Stammler dengan istri tercintanya, atau Dewi Ayu yang paling dekat sebagai orang yang membuat Ma Gedik bunuh diri. Katanya, Aneu Stammler masih keturunan langsung Ma Iyang sedangkan Dewi Ayu sendiri pelacur yang tidak punya cinta sejati. Maka, ditunggulah sampai kepada anak-anak Dewi Ayu. Itu pun salah satu dari mereka pernikahan Shodanco dan Alamanda bukan percintaan tulus turut juga dia pisahkan.
Klimaks Cantik cenderung merupakan penyelesaian yang instan. Percakapan roh jahat yang mengaku merancang semua kematian menantu dan cucu Dewi Ayu. Tiba-tiba Dewi Ayu punya pisau belati lantas menusukkan pada roh jahat itu. Bila kita telusuri, betul ada jejak hantu Ma Gedik pada bab 2 dan  bab 14. Dendam ya dendam. Tidak seru tanpa perkara balas-membalas. Di saat yang sama saya merasakan tingkat kesulitan mengarang novel Cantik. Bagaimana menjalin rangkaian rumit alur ceritanya.
Alternatif ending yang mungkin untuk novel Cantik ialah Dewi Ayu mendatangi satu-persatu roh-roh cucu dan cicitnya yang terpencar-pencar. Dia menyatukan mereka lalu berziarah ke makamnya. Semacam pencari fakta untuk dibawa menemui anak-anak perempuannya sekaligus reuni dengan hantu Ma Gedik -bukan roh jahat. Kutukan itu benar adanya. Pertemuan perpisahan Dewi Ayu dengan Ma Gedik sesama roh/zombi cakep dijadikan suatu perenungan/rekonsiliasi (bayang-bayang konflik PKI). Keduanya sepakat tragedi yang menimpa keturunan Ted Stammler dianggap sebagai karma. Ending yang berkesan nyastra. Detil-detil lainnya tidak usah saya yg pikirkan.
Percampuran bahan-bahan berkualitas dapat diramu dengan baik, hanya saja tidak mulus. Sy umpamakan novel itu sebagai kemeja mahal yang agak kusut. Narasi yang padat dan intens. Bertumpuk-tumpuk walaupun tidak mengganggu keterbacaaan.  Mungkin itu bukan kritik yang tepat sebab sebenarnya itu tidak mudah untuk buku setebal itu. Jika bukan self editing, novel Cantik memerlukan editor yang tulus. Tak lupa proofing yang mantap. Sy mencatat sejumlah hal yang barangkali dapat diubah :
Pertama, Ma Gedik yang bersetubuh dengan hewan ternak. Apakah pengarang buku menuliskan bestiality tersebut berdasarkan riset? Adakah contoh kasus prilaku dari orang-orang yang gila karena patah hati bukan karena otaknya rusak. Lagipula, dalam cerita itu Ma Gedik kembali waras setelah 16 tahun. Ketika kekasihnya tewas, dia tetap melanjutkan hidup seorang diri dan bekerja di pelabuhan. Bagian cerita mengenai bestiality menurutku, tidak perlu ada dalam cerita.
Kedua, apakah  hantu-hantu komunis itu zombie? Kita pahami hantu itu roh atau makhluk halus, tapi bagaimana bisa Maya Dewi memberi makan hantu? Satu lagi ketika ada hantu komunis bertandang ke rumah Kamerad Kliwon, lukanya dilap sampai darahnya tidak mengalir. Dewi ayu menikam roh mantan suaminya hingga berdarah. Ini berarti hantu-hantu tersebut memiliki wujud fisik biarpun telah mati. Fenomena dalam cerita fiksi yang kita kenal dengan sebutan zombie.
Pemberian nama “Cantik” kepada anak Dewi Ayu yang buruk rupa adalah ironi yang absurd. Sejumlah hal lain yang mengganggu misalnya seorang ibu melempar bayinya ke semak-semak karena ketakutan, atau Maya Dewi yang putus sekolah karena perkawinan dll. Buku ini adalah novel yang ganjil. Terkadang dialognya lebay. Meskipun demikian, segala kejanggalan setebal hampir 500 halaman tergolong wajar bagi genre fantasi. Saya tidak bermaksud sok pintar. Taruhlah masakan yang kokinya mencampur semua bahan yang tersedia secara eksperimental. Berbicara dari sudut pandang penyantap/pembaca, bahan-bahannya sudah tepat, mungkin kadar bumbunya yang perlu dikurangi.
Saya tidak melihat dicantumkannya nama editor dan proofreader dalam buku. Tidak mungkin buku sekaliber itu tidak melalui proses penyuntingan. Sepertinya buku tersebut dulu ditulis cepat, berkesan terburu-buru, tapi astaga itu pun sudah berhasil. Dicetak ulang berkali-kali dan sukses besar di luar negeri. Bagaimana kalau Eka Kurniawan menulis pelan-pelan? Mengemas segala sesuatunya dengan sabar. Paling tidak proses editing-nya diperpanjang. Buku yang telah selesai pun terbuka kemungkinan direvisi untuk mencapai kesempurnaan.
Kesimpulan dari keseluruhan penceritaan : novel Cantik memiliki konsep yang berharga. Strukturnya mantap dan kisah hebat. Cara mengisahkan Cantik merupakan pilihan pengarangnya yang membuatnya unik dan tidak generik. Andaikan fokus pada latar sejarah tanpa unsur dongeng, kepercayaan dan hantu-hantu, novel Cantik itu Luka tetap akan menjadi salah satu novel terbaik di Indonesia.
Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top