Pengertian Sastra Khas Indonesia

Pendapat saya pribadi, perbedaan karya sastra dan nonsastra terletak pada penulis/pengarang sebagai satu-satunya variabel pembanding. Karya sastra ditulis oleh sastrawan sedangkan non sastra tidak ditulis oleh sastrawan. Pengertian tersebut tidaklah rumit. Namun, orang di Indonesia seakan-akan ingin membedakan sastra dan non sastra seperti membedakan antara karya seni dan bukan karya seni sehingga rawan terjadi perkelahian.

Sastrawan ialah ahli sastra, pujangga, pengarang prosa, dan cendikia (KBBI). Tulisan ini memberikan definisi mencakup pertama : individu yang bergelut di bidang sastra baik pekerjaan maupun hobi dan kedua : mereka yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di bidang tersebut. Jadi, semua guru bahasa, dosen sastra, dan orang yang membangun komunitas baca-tulis adalah sastrawan meskipun mereka tidak pernah menerbitkan buku -paling tidak diktat- di samping sastrawan yang masyhur oleh karyanya.

Menentukan sebuah buku apakah merupakan karya sastra bukanlah perkara struktur dan isi buku tersebut melainkan cukup dengan mengenal penulis buku yang bersangkutan. Karya sastra tidak mendahului penulisnya. Pengarang/penyair harus memenuhi syarat seorang sastrawan agar karyanya disebut sebagai karya sastra termasuk segala jenis fiksi dan nonfiksi di media konvensional, major/self published atau pun cyber. 

Berkaitan dengan mutu penulisan, benarkah karya sastra lebih baik dari karya nonsastra yang tidak ditulis oleh sastrawan? Perdebatan hampir menjadi perbuatan sia-sia sebab kualitas penulisan sebuah buku tidaklah menjadi pembanding antara sastra dan non sastra sesuai paparan di atas. Mengapa demikian? Tolak ukur keterbacaan dan kelayakan sebuah karya diserahkan kepada penerbit di mana masyarakat mafhum menerimanya sebagai tempat penyeleksian naskah. Selain itu, organisasi penerbitan terdiri atas para ahli yakni editor, proofreader, desainer dan pemasaran setelah terpilih satu judul dari sekian banyak naskah. Buku-buku yang logis untuk didiskusikan mana yang bagus harus berada pada genre atau segmen pembaca yang sama.

Pengertian \’sastra\’ dipadankan dengan \’books\’ dan \’literature\’ sebagai karya tulis yang umum. Di Indonesia, sastra mengandung gengsi yang dirasakan pembaca, penulis, dan dunia perbukuan. Bagaimana menjelaskan karya sastra memiliki keunggulan ketimbang nonsastra? Keindahan di dalam sastra menjadi suatu keniscayaan karena sastrawan aktif dalam urusan tata bahasa. Sastra sebaiknya dianggap lebih baik bukan karena buku itu sendiri melainkan ditulis oleh sosok sastrawan dengan keteladanan dan ketokohan yang melekat padanya. Sastrawan biasanya juga seorang budayawan atau seniman, oleh sebab itu sastra khas Indonesia erat dengan konteks keindonesiaan kendati tidak menjamin nilai jual, walaupun dapat menjadi faktor penjurian.

Antara karya bercorak sastra dan populer hampir tidak bisa dibedakan dari faktor-faktor intrinsik. Biasanya ekstrinsik, itu pun dicurigai subjektif berdasarkan penilaian media tertentu, editor, kurator, hingga kolega/sahabat sesama sastrawan. Satu-satunya parameter objektif yang dapat mengukur pemilahan tersebut dilihat dari segi bentuk sekaligus isinya ialah banyaknya bahasa simbolik, baik kuantitas maupun kualitas semiotika yang dikandung suatu karya. Itulah sebabnya karya-karya yang sarat muatan kritik sosial dan politik berpeluang menjadi juara.

Bagaimana pun sebuah buku laris (best seller) dan terkenal belum tentu ia karya sastra. Dengan kata lain bisa kita katakan semua orang layak menjadi sastrawan jika mampu berbahasa baik menulis benar di bidang pendidikan, jurnalisme, atau berkecimpung sebagai penulis buku dan memberikan sumbangsih bagi kehidupan sosial.   

 

Share ke teman-teman

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top