indianfolk
Cerita-cerita rekaan termasuk yang berdasarkan kisah nyata dalam bentuk buku fiksi dan audio visual telah menjadi bagian hidup masyarakat dan industri kreatif. Budaya dan industrialisasi lewat karya fiksi telah melahirkan gejala atau sindrom tertentu kepada konsumen pembaca buku dan pemirsa film. Sindrom fiksi merupakan kumpulan gejala yang dialami oleh individu sebagai akibat banyaknya bacaan dan dengar-tonton melalui media cetak dan elektronik. Simtom-simtom tersebut diantaranya :
1. Kecanduan fiksi (addicted to fiction)
Pernahkah Anda mendengar tentang masalah kecanduan fiksi? Hal ini pada dasarnya terjadi ketika kita membaca buku atau menonton di tv dan tidak bisa berhenti meskipun orang menjadi tidak produktif karena itu. Kecanduan tersebut mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi bisa sangat mengganggu tatanan hidup sehari-hari. Lantas bagaimana memahami problem kecanduan fiksi? Banyak orang suka membaca. Beberapa dari mereka benar-benar menikmati fiksi dan membayangkan hal itu menjadi bagian dari cinta. Tetapi sebagian orang benar-benar larut ke dalam fiksi dan mereka tidak bisa berhenti. Dari sejak membuka sampul buku pertama, terus sampai selesai hingga halaman terakhir dan tidak berakhir untuk satu buku saja. Setelah satu buku selesai, berlanjut terus membaca buku lain. Akibatnya jelas; seseorang menjadi tidak produktif. lupa sekolah, pekerjaan, bahkan istirahat. Mereka yang benar-benar kecanduan fiksi dapat membaca sepanjang malam, dan benar-benar lupa untuk tidur. Jika mengalami hal tersebut, lebih baik berkonsultasi dengan ahli – yaitu psikolog atau psikiater. Jenis kecanduan itu mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi juga tidak membawa hasil yang baik. Mungkin anda bisa menyalurkan kebiasaan itu misalkan memilih pekerjaan yang berkaitan dengan kecenderungan konsumtif terhadap karya fiksi semisa editor, pustakawan, atau penjual buku.
2. Serangan fiksi (fiction attack)
Berbeda dengan kecanduan fiksi yang dialami pembaca fiksi, ‘serangan fiksi’ ialah momen ketika pengarang mendapat ide atau bahan penulisan fiksi yang datang secara intens terus menghantui hingga tangan menuliskannya. Sebuah kondisi terinspirasi yang ekstrim. Sepertinya ini merupakan kebalikan dari situasi penulis yang mengalami kebuntuan penulisan (writer’s block).
3. Fiksi untuk fiksi
Wacana ini diperoleh dari doktrin formalisme “Seni untuk kepentingan seni” dalam hal ini termasuk sastra untuk kesusasteraan. Saya tidak tahu apakah kita bisa menemukan contoh karya semacam ini yang benar-benar murni untuk seni sastra. Mungkin tidak ada. Jangan salah sangka. Saya pernah membaca novel yang dipadati kata-kata indah, kaya diksi serta irama mendayu-dayu. Tidak selesai kubaca. Saya lupa judulnya. Itu novel percintaan yang sangat puitis. Mungkinkah \’fiksi untuk fiksi\’ itu tidak bermakna? (atau hanya bermakna cinta pada kekasih). Penulisan fiksi lazim dipakai untuk mengekspresikan diri, mengkritik, dan mengingatkan tujuan manusia. Jadi, fiksi untuk fiksi tinggal teori. Semua karya sastra pasti punya unsur ekstrinsik. Padahal, kita cuma perlu memaknainya secara praktis, yakni karya tulis yang telah dijadikan referensi untuk memotivasi orang menulis fiksi terutama generasi muda. Misalnya buku-buku yang dijadikan literatur bahan pengajaran/pendidikan. Apakah itu sebab masyarakat awam indonesia menilai novel metropop dan genre khusus lainnya bukan sastra?
4. Fiksi feminis dan maskulin
Sesungguhnya pembedaan karya yang mengusung feminisme dan buku-buku mainstream yang bersifat maskulin tidak perlu ada. Hal ini karena setiap pengarang tentu masing-masing mewakili kelelakian atau keperempuanan yang dimilikinya. Namun, sebaiknya itu tidak menghalangi pengarang laki-laki membahas perempuan dan penulis perempuan membicarakan laki-laki. Pembaca akan mendapat wawasan terhadap hubungan satu sama lain. Sebagai contoh : Pembaca pria bakal lebih memahami wanita dengan membaca karya-karya pengarang perempuan. Sungguh? Tanyakan kepada diri sendiri. Yang jelas masyarakat memang membutuhkan (walaupun tidak menunjukkan keinginan) kedalaman pikiran dan kekayaan perasaan dalam bacaan mereka.
Itulah keempat simtom fiksi yang dapat saya uraikan. Percaya atau tidak? Terserah anda. Barangkali ada gejala lain yang anda juga alami. Silakan berkomentar dan bagikan tulisan ini ke jejaring pertemanan anda.
Anda mungkin menemukan berbagai fenomena lain dalam penulisan kreatif dan fiksi populer. Silakan tulis komentar.
sumber :
– Wikipedia
– Pengalaman pribadi
